Pos

Biro Kepesantrenan Gelar Tes Kompetensi Baca Tulis Alquran Santri Baru

berita.nuruljadid.net – Biro Kepesantrenan bersama Pusat Pendidikan Ilmu Alquran (PPIQ) Nurul Jadid melaksanakan tes klasifikasi kompetensi Baca Tulis Alquran bagi santri baru pada Jumat (19/07/24) di masing-masing wilayah. Kegiatan ini bertujuan untuk mengasah santri agar memiliki kompetensi mumpuni dalam baca tulis Alquran.

Pasalnya, santri sebagai penerus estafet perjuangan Islam di lingkup masyarakat, bangsa, dan negara harus seminimalnya dapat menjaga dan membaca Alquran, maka kurang sempurna status kesantriannya bila tidak mampu membaca Alquran.

Bertolak dari latar belakang tersebut, sebagaimana Wakabid. BKWA dan Pembinaan Santri Madinatul Munawwarah menerangkan bahwa tradisi baca tulis Alquran harus terus lestari, maka pembinaan Alquran perlu ditanamkan sedari dini di lingkungan pesantren.

“Hal yang paling dasar, ini juga termasuk dalam program Furdhul ‘Ainiyah 3 Bulan, yakni bimbingan baca tulis Alquran yang tingkatannya akan terus kontinyu hingga waktu mendatang beriring meningkatnya kualitas santri,” imbuhnya.

Dalam ujian ini, lanjut Madina, hasilnya akan memetakkan santri berdasarkan tingkatan kelompok pembinaan Alquran. Menurutnya, pengelompokan ini berdasarkan dengan kompetensi santri tentang baca tulis Alquran.

“Dengan adanya tes ini, diharapkan pembinaan santri terklasifikasi dengan baik sesuai kemampuan dan kompetensi santri dalam membaca Alquran agar pembinaan Alquran berjalan secara optimal,” ungkapnya.

Menyoal tes, salah satu penguji Dewi Sya’baniyah Rahamtillah menyampaikan bahwa tes ini dibagi menjadi beberapa tahapan, yakni dimulai dengan menulis Surah Al-Fatihah, kemudian membaca Alquran bin nadzor.

“Tahapan ini dilakukan untuk mengetahui sejauh apa kompetensi santri dalam baca tulis Alquran. Dalam tes membaca, penilaian kami memuat: makhorij, sifatul huruf, kelancaran, penekanan bacaan ghunnah serta ahkamul mad,” pungkasnya.

 

Pewarta: Naura Fikroh Sadidah

Editor: Ahmad Zainul Khofi

 

KH Fahmi AHZ : Libatkan Allah dalam Perjuangan dan Pengabdian, Allah Tidak Pernah Ingkar, Semua Akan Dibayar Tunai

nuruljadid.net – Pada pembukaan diklat pengurus Kamtib Pondok Pesantren Nurul Jadid, KH. Fahmi Abdul Haq Zaini hadir memberikan tausyiah kepada seluruh peserta diklat yang bertempat di Aula Mini Pesantren (11/01/2024). Upaya ini guna menambah wawasan, bekal dan keterampilan dalam menjalankan tugas dan amanah sebagai personil Keamanan dan Ketertiban (Kamtib).

“Punya kesadaran sebagai pengabdi itu penting. Pengabdi sama seperti pejuang sehingga memberikan semua yang dimiliki bukan mengharap mendapatkan dari apa yang dikerjakan. Pengorbanan dari tenaga, pikiran bahkan materi untuk apa yang diperjuangkan adalah bentuk jihad di jalan Allah SWT,”

“ketika sikap itu ditanamkan maka tugas dan amanah tidak akan menjadi beban melainkan menambahkan semangat pengabdian”

“Sebelum memberikan sanksi yang terus-menerus, Kamtib perlu berpikir untuk perkuat tindakan preventif dan protektif. Untuk itu perlu melahirkan kesadaran yang utuh dalam diri santri. Ibaratnya jangan hanya menangkap maling, tapi perlu berpikir bagaimana caranya agar mereka tidak menjadi maling.”

“Puncak tertinggi perjuangan kita adalah meninggikan kalimat Allah”

“perlu tanamkan dalam hati dan pikiran kita, bahwa yang kita lakukan semata-mata untuk menauladani Rosullullah dalam perjuangan. Niat ngopeni umat Rosulullah dalam pengabdian baik di pesantren maupun di tempat yang lebih luas di masyarakat kelak”

KH. Fahmi AHZ saat memberikan tausyiah dalam Pendidikan dan Pelatihan (Diklat) Kamtib Biro Kepesantrenan Pondok Pesantren Nurul Jadid Paiton Probolinggo

“Sebagaimana Nabi Muhammad SAW sangat memikirkan umatnya, maka kita perlu dedikasikan diri kita untuk bersama merawat umat Rosulullah.”

“Menindak santri harus niatkan dan bertujuan untuk mengedukasi bukan pelampiasan emosi”

“pola pikir perlu kita rubah bahwa santri adalah aset masa depan sehingga perlu diurus dan dilayani dengan sangat baik”

“Kiai Hasyim Zaini mencontohkan dengan selalu memanggil santri dengan sebutan ananda karena menganggap santri sebagai anak dan tanggung jawab”

“Kiai Hasan Abdul Wafi dulu pernah berpesan bahwa pengurus perlu memunajatkan santri sebagai amanah bahkan dalam waktu kualitas kita bersama Sang Kholiq, doakan kebaikan mereka.”

“Kiai Fadlurrahman Zaini berdawuh kalau ingin hajatnya terkabul maka jangan hanya mendoakan diri sendiri tapi juga mendoakan orang lain. Kalau kita mendoakan orang lain tanpa diketahui orang yang didoakan, maka malaikat akan mengaminkan dan doa tersebut kembali kepada untuk orang yang mendoakan itu sendiri.”

“Dalam pengabdian di pesantren libatkan Allah SWT dalam setiap perjuangan dan pengabdian. Karena janji Allah SWT tidak akan pernah ingkar pasti akan dibayar tunai.”

“dengan kesadaran penuh karena Allah, maka semua lelah dan letih kita akan menjadi lillah, jangan hanya dijadikan status saja namun lebih kepada realisasi dalam kehidupan nyata.”

“Tata dan Kuatkan Niat, jangan jadikan pengabdian sebagai fasilitas, itu namanya kepentingan berbalut pengabdian.”

“Kiai Hasan Abdul Wafi pernah dawuh kamtib memang tidak wajib ikut pengajian, hadiran di masjid dan majelis di kelas-kelas, akan tetapi jika betul-betul niat dan mengawal semua santri agar ikut semua kegiatan yang telah dirancang oleh pesantren, maka insyaallah dapat aliran barokah dan kebermanfaatan dari Masjid dan kegiatan-kegiatan yang juga diikuti oleh santri pada umumnya. Syukur-syukur juga bisa ikut membersamai”

(Humas Infokom)

Kepala Biro Kepesantrenan Buka Secara Resmi Diklat Tim Kamtib Nurul Jadid

nuruljadid.net – Dalam rangka meningkatkan kapabilitas dan kapasitas personil anggota keamanan, Kepala Biro Kepesantrenan Pondok Pesantren Nurul Jadid Kiai Ahmad Madarik resmi membuka kegiatan Pendidikan dan Pelatihan (Diklat) Keamanan dan Ketertiban (Kamtib) putra tahun 2024 yang bertempat di Aula Mini Pesantren (11/01/2024).

Kegiatan Pendidikan dan Pelatihan (Diklat) Pengurus Kamtib ini kali kedua dilaksanakan kembali setelah beberapa tahun vakum sejak Covid-19. Hal ini bertujuan untuk membekali pengurus bagian Kamtib baik di kepengurusan pusat maupun daerah dengan kedisiplinan, keterampilan dan kapasitas standard yang harus dimiliki oleh seorang perwira Kamtib dalam menjalankan tugas dan fungsinya di pesantren.

Ketua Panitia Ali Fikri Ramadhon menyampaikan bahwa kegiatan ini merupakan kegiatan yang sangat ditunggu sejak beberapa tahun terakhir untuk mencetak pengruus kamtib yang kompeten dan disiplin tidak hanya tegas dalam bersikap melainkan juga sopan dan santun dalam mengawal keamanan dan ketertiban di pesantren khususnya kepada tamu-tamu pesantren.

“kami selaku panitia sangat bersyukur akhirnya kegiatan Diklat ini kembali dilaksanakan setelah beberapa tahun vakum sejak covid-19. Karena diklat ini sangat penting untuk dilaksanakan dalam membekali pengurus dan calon pengurus dalam menjalankan amanah pesantren di bidang Kamtib,” ungkap Ucok sapaan akrab ketua panitia.

Ketua Panitia Ali Fikri Ramadhon saat memberikan laporan panitia pada pembukaan Diklat Pengurus Kamtib Biro Kepesantrenan Pondok Pesantrenan Nurul Jadid Paiton Probolinggo di Aula Mini Pesantren

Kepala Biro Kepesantren Kiai Madarik menyampaikan harapannya bahwa pengurus Kamtib hendaknya juga menjadi tauladan selain mengawal ketertiban dan keamanan pesantren dengan aturan yang telah ada, karena ketauladanan menjadi hal urgen dalam setiap upaya pendidikan dan pembinaan karakter.

“harapannya melalui diklat ini kita semua belajar dan menyadari bahwa pengurus termasuk Kamtib juga berstatus sebagai santri sehingga selain menjalankan tugas sebagai kamtib juga memiliki status sebagai santri yang tidak kebal hukum, maka harus taat dan tunduk terhadap aturan yang ada di pesantren, insyaallah lelahnya akan menjadi barokah dan perantara kebaikan untuk pribadi masing-masing,” tutur beliau saat sambutan.

Kiai Ahmad Madarik juga berharap pengabdian pengurus Kamtib  akan menjadi ruang khidmah ke masyarakat kelak. Tantangan menjadi pengurus Kamtib tidak mudah karena harus bergesekan dengan santri dan wali santri sehingga jika diniatkan pengabdian ini untuk menggapai ridho Allah SWT, maka insyaallah akan membawa kebaikan dan keberkahan.

“Jangan jadikan tanggung jawab di pesantren sebagai beban namun dinikmati sebagai bagian dari pengabdian.”

“Diklat ini manfaatkan sebaik mungkin untuk tambahan wawasan, keilmuan dan kesadaran untuk melaksanakan tugas dengan baik sesuai hak dan kewajiban sebagai kamtib. Semoga diklat berjalan dengan sukses.”

“Ingat pesan pengasuh, agar menghindari kekerasan, boleh marah dan melakukan penindakan untuk mendisiplinkan, akan tetapi kekerasan yang bertujuan semata agar santri waspada dan tidak mengulangi namun bukan kekerasan. Niatkan mengabdi dan mengedukasi”

Kegiatan ini dihadiri KH. Fahmi Abdul Haq Zaini, Wakil Kepala Biro Kepesantrenan Kiai M. Hilman Zidny, Kiai Shalahuddin Wahid, Sekretaris Biro Kepesantrenan Moh. Alief Hidayatullah dan Kepala Bidang Kamtib ustaz Adiyatno Hidayat serta jajaran pengurus Kamtib.

 

 

(Humas Infokom)

120 Guru Putra dan Asatiz Nurul Jadid Upgrading Pola Asuh Santri Melalui Kelas “Menjadi Teladan”

nuruljadid.net – Sebanyak 120 guru dan asatiz Pondok Pesantren Nurul Jadid Paiton probolinggo atas inisiatif dan kolaborasi Biro Kepesantrenan dan Biro Pendidikan mengikuti Kelas “menjadi teladan” pada program Dormitory Educator Academy (DEA) oleh Kafa Institute selama 3 hari mulai Selasa sampai hari ini Kamis (7-9/11/2023). Kegiatan ini bertujuan guna meningkatkan pola asuh mereka melalui In House Training (IHT). Poin utamanya yaitu untuk memberikan teladan yang lebih baik kepada para santri dan memperkaya kualitas pendidikan di pesantren.

Pelatihan dengan sistem program kelas seri ke-XXXVI berjudul “Menjadi Teladan” ini diisi oleh 2 trainer ahli DEA, ustaz Ibrahim Mandres dan ustadz Puguh Santoso (Mr. Poo) yang kemudian berhasil menghidupkan suasana forum dan memberikan kesan positif kepada 120 peserta dari perwakilan sleuruh satuan pendidikan dan wali asuh asrama.

Dalam upaya meningkatkan kualitas pembinaan, pola pengasuhan dan pembelajaran, para guru dan asatiz ini mengikuti serangkaian kelas yang fokus pada pengembangan metode pengajaran yang inovatif dan pola asuh yang membangun karakter. Dengan adanya pelatihan ini, diharapkan mereka dapat menjadi teladan yang lebih baik bagi para santri dalam kehidupan sehari-hari.

Pengurus Biro Kepesantrenan, Ustaz Rahmat Toyyib, menyatakan, “Kami percaya bahwa pendidikan bukan hanya tentang pengetahuan akademis, tetapi juga tentang pembentukan karakter. Dengan meningkatkan pola asuh guru dan asatiz, kami berharap dapat melahirkan generasi yang tidak hanya cerdas secara intelektual, tetapi juga memiliki moralitas yang tinggi” ungkapnya.

Suasana Forum Kelas Menjadi Teladan bersama 120 peserta dari kalangan guru dan wali asuh asrama Pondok Pesantren Nurul Jadid Paiton Probolinggo

Selama pelatihan, para peserta mendiskusikan berbagai pendekatan baru dalam mengajar, memahami psikologi anak, dan strategi efektif dalam membangun hubungan yang baik dengan para santri. Mereka juga diajak untuk merenungkan peran mereka sebagai pendidik dan panutan bagi anak didik mereka baik di kelas maupun di asrama.

Salah satu peserta pelatihan, Saleh Bin Abdurrahman guru SMK Nurul Jadid, mengaku, “Saya merasa sangat terinspirasi dan termotivasi setelah mengikuti kelas ini. Ini membuka wawasan saya tentang bagaimana cara mendekatkan diri dengan anak didik santri, memahami kebutuhan mereka, dan memberikan dukungan yang mereka perlukan.”

Ustaz Ibrahim Mandres menyampaikan dalam sesi kelas Menjadi Teladan bahwa Guru Teladan adalah Kunci Sukses Kepengasuhan. Lanjutnya “Tiada Kesuksesan Tanpa Kedisiplinan, Tiada Kedisiplinan Tanpa Keteladanan,” imbuh ustaz Ibrahim kepada seluruh ratusan peserta di Aula 1 Pondok Pesantren Nurul Jadid Paiton Probolinggo.

Pondok Pesantren Nurul Jadid terus berkomitmen untuk meningkatkan kualitas pendidikan dan mendukung perkembangan holistik para santri. Dengan adanya inisiatif seperti ini, diharapkan pesantren dapat terus menjadi lembaga pendidikan yang memberikan dampak positif pada pembentukan karakter generasi muda untuk kemaslahatan umat dan bangsa.

(Humas Infokom)

Nurul Jadid Latih 130 Guru dan Pengurus Putri Menjadi Pioner Keteladanan di Pesantren

nuruljadid.net – Pengurus Pondok Pesantren Nurul Jadid Putri Pusat mengadakan pelatihan untuk 130 guru dan pengurus putri tentang “Menjadi Teladan” dalam program Dormitory Educator Academy atau DEA, di bawah naungan KAFA Institute. Pelatihan manajemen asrama pondok pesantren untuk seri ke-XXXVI ini diselenggarakan selama 3 hari mulai hari Jum’at-Ahad (03-05/11/2023) di Aula 1 Pondok Pesantren Nurul Jadid, Paiton Probolinggo.

Pelatihan dengan sistem program kelas berjudul seri “Menjadi Teladan” ini, diisi oleh dua trainer ahli, ustadz Ibrahim Mandres dan ustadz Puguh Santoso (Mr. Poo), yang kemudian berhasil menghipnotis 130 guru dan pengurus putri termasuk pimpinan pesantren putri di lingkungan Pondok Pesantren Nurul Jadid.

Suasana Pelatihan Kelas Menjadi Teladan bagi guru dan pengurus asrama putri Pondok Pesantren Nurul Jadid

Kegiatan In House Training Menjadi Teladan ini mendatangkan berbagai respon positif dari para peserta, ada yang bersyukur punya kesempatan mengikuti pelatihan, mendapat pelajaran baru dari puluhan tahun menjadi guru dan pengurus, bahkan ada yang ingin bersegera menerapkan langsung materi pelatihan di lembaga dan asramanya.

“Alhamdulillah, ternyata problematika di pesantren itu sangat luar biasa, saya sangat terkesan sekali dengan penyampaian para mentor yang benar-benar terjadi di pesantren,” kesan ustazah Hariana, guru MTs Nurul Jadid yang juga alumni.

Pimpinan putri Pondok Pesantren Nurul Jadid berharap agar pelatihan oleh DEA dapat memberikan dampak langsung yang posotif kepada seluruh peserta dan para santri. Harapannya juga kegiatan semacam ini terus berlanjut hingga batch-batch berikutnya, sehingga menghasilkan guru dan pengurus asrama berkualitas yang rapi secara sistem dan bagus secara emosi dalam menghadapi berbagai situasi dan problematika yang dihadapi di asrama dan sekolah.

 

 

(Humas Infokom)

Nasi Kotak Kos Makan Santri Terapkan Prinsip 3R Solusi Kurangi Sampah dan Ramah Lingkungan

nuruljadid.net – Di tengah meningkatnya kesadaran akan pentingnya pelestarian lingkungan, sebuah gagasan inovatif yang sejak lama diwacanakan kini telah terealisasi di Pondok Pesantren Nurul Jadid terkait penggunaan kotak nasi (rice box) kos makan santri yang dapat digunakan berulang-ulang (reusable), meskipun ini pernah dijalankan dulu.

Sebagaimana disampaikan oleh Kepala Biro Kepesantrenan sekaligus Direktur Sinar Sejahtera KH. Fahmi Abdul Haq Zaini bahwa konsep rice-box ini menerapkan kaedah prinsip ramah lingkungan yaitu 3 R (Reduce, Reuse dan Recycle).

“Tujuan kami melakukan peningkatan layanan kos makan santri ini selain untuk memperbaiki kualitas gizi dan kebutuhan dasar santri dengan menu yang beragam, kami juga ingin menjaga kelestarian lingkungan pesantren meskipun belum sepenuhnya paling tidak ini dapat mengurangi sampah bungkus makanan karena rice-box nya bisa dipakai berulang-ulang.”

Pondok Pesantren Nurul Jadid, telah mengadopsi sistem nasi kotak ‘reusable’ sebagai bagian dari upaya untuk menjadi lebih ramah lingkungan. Sistem ini memungkinkan para santri untuk menggunakan wadah nasi kotak yang dapat digunakan berulang kali, daripada wadah sekali pakai yang umumnya digunakan di berbagai restoran atau penjual makanan.

Salah satu hal yang membuat inovasi ini begitu berharga adalah kemampuannya untuk mengurangi jumlah sampah plastik. Dengan menggantikan wadah nasi kotak sekali pakai dengan wadah yang dapat digunakan berulang kali, pesantren ini telah berhasil mengurangi dampak negatif sampah plastik pada lingkungan.

Sekretaris Pesantren, H. Tahiruddin, menjelaskan, “Kami sadar akan masalah lingkungan yang semakin memburuk, dan kami merasa bertanggung jawab untuk berkontribusi dalam mengurangi sampah plastik. Inovasi ini juga merupakan bagian dari pembelajaran dan pemahaman pesantren terhadap nilai-nilai lingkungan dalam Islam.”

Inovasi ini diharapkan akan menjadi inspirasi bagi lembaga-lembaga lain untuk mengadopsi praktik yang lebih ramah lingkungan. Dengan perubahan kecil seperti ini, kita dapat memberikan kontribusi yang signifikan dalam menjaga bumi kita tetap bersih dan sehat untuk generasi yang akan datang.

(Humas Infokom)

Santri Nurul Jadid Sambut Antusias Peningkatan Layanan Kos Makan Dapur Umum

nuruljadid.net – (13/10/2023) Pondok Pesantren Nurul Jadid Paiton, Jawa Timur, telah mendengarkan aspirasi santrinya dan memberikan perhatian khusus terhadap kualitas layanan kos makan di pesantren. Setelah melakukan upgrading dapur umum pesantren, santri merasakan perubahan yang cukup signifikan dalam pengalaman mereka saat menikmati sajian kos makan santri dalam bentuk rice box di asrama sebagai upaya perubahan positif dalam segi layanan kesejahteraan santri.

Inisiatif ini merupakan kerja keras dan keseriusan pihak pesantren melalui Sinar Sejahtera (SS) yang dipimpin oleh KH. Fahmi Abdul Haq Zaini selaku direktur sekaligus kepala Biro Kepesantrenan dalam mengupayakan yang terbaik untuk santri. Disadari, bahwa masih terdapat koreksi dan evaluasi sehingga Pondok Pesantren Nurul Jadid tidak pernah berhenti melakukan pengawasan, menerima masukan dan pembenahan di berbagai lini.

Yoga Pratama santri asal Jember merasa senang dan antusias dengan sajian kosmara dalam kemasan dan kualitas saat ini. “Saya sangat senang dengan perubahan yang ada dengan Kosmara. Dengan adanya dapur umum pesantren, kualitas Kosmara lebih baik dan dengan rice-box nasi tidak mubadzir terbuang karena santri bisa makan sesuai jatah yang diberikan.”

Begitu juga dengan pengurus asrama Ustaz Rijal menyampaikan antusiasnya menyambut perubahan dalam layanan kosmara ini. “Upaya pesantren untuk meningkatkan layanan kos makan telah membuat santri merasa didengar. Kualitas makanan telah meningkat, dan pilihan makanan yang lebih variatif, sehat dan bergizi. Saya bersyukur semoga bisa dipertahankan dan lebih baik lagi demi kesejahteraan teman-teman santri yang mondok dan mengaji di pesantren.”

Revitalisasi dapur umum ini adalah salah satu bukti nyata dari perhatian pesantren terhadap kesejahteraan santri dan komitmen mereka untuk menciptakan lingkungan yang mendukung pembelajaran dan perkembangan mereka. Semoga perubahan ini terus memberikan manfaat positif bagi seluruh santri di Pondok Pesantren Nurul Jadid Paiton Probolinggo.

(Humas Infokom)

Kiai Zuhri Zaini Cek Langsung Dapur Umum Pasca Upgrading Upaya Peningkatan Layanan Kos Makan Santri

nuruljadid.net – Pondok Pesantren Nurul Jadid terus berkomitmen untuk meningkatkan kualitas layanan kos makan bagi ribuan santri. Salah satu langkah konkret yang diambil oleh pesantren ini adalah meng-upgrade Dapur Umum pesantren untuk memastikan santri mendapatkan makanan berkualitas dan sehat setiap harinya yang dicek langsung oleh pengasuh Kiai Zuhri Zaini (19/09/2023).

Kunjungan pengasuh Kiai Zuhri Zaini ke dapur umum ini didampingi oleh sekretaris pesantren H. Thahiruddin, sekretaris Yayasan H. Faizin Syamwil dan pihak mitra bapak Asy’ari. Nampak, kiai Zuhri sesekali tersenyum melihat perubahan yang sangat positif dari dapur umum pelayanan kos makan santri, ini merupakan kemajuan yang perlu disyukuri.

Pengasuh Kiai Zuhri Zaini didampingi sekretaris pesantren H. Thahiruddin dan Sekretaris Yayasan H. Faizin Syamwil ketika mengecek kondisi dapur umum santri

Peningkatan Dapur Umum ini adalah bagian dari tujuan Pondok Pesantren Nurul Jadid untuk menciptakan lingkungan pendidikan yang lebih baik dan mendukung pertumbuhan holistik para santri. Dengan fasilitas yang ditingkatkan, pesantren berharap dapat memberikan makanan yang lebih baik, lebih bervariasi, dan lebih sehat kepada santri.

Abdul Ghafur Haikal, Kepala Bidang Kesejahteraan Santri Biro Kepesantren Nurul Jadid, mengatakan, “Kami sangat peduli terhadap kesejahteraan santri sebagaimana amanah dari pengasuh untuk memberikan layana terbaik. Dalam upaya untuk mencapai standar pelayanan itu, kami bekerjasama dengan bapak Asy’ari alumni asal Situbondo telah melakukan renovasi besar-besaran pada Dapur Umum pesantren. Ini adalah langkah yang penting dalam memastikan santri mendapatkan nutrisi yang diperlukan untuk berkembang dengan baik.”

Pengasuh Kiai Zuhri Zaini ketika mengecek peralatan makan santri di dapur umum pasca upgrading

Peningkatan Dapur Umum melibatkan perluasan dan pembaruan peralatan memasak, penyediaan ruang yang lebih luas untuk mempersiapkan makanan, serta peningkatan dalam standar kebersihan dan sanitasi. Pondok Pesantren Nurul Jadid juga telah mempekerjakan koki berpengalaman untuk memasak makanan yang lezat dan sehat.

Peningkatan Dapur Umum ini mendapat dukungan penuh dari para orangtua santri, yang juga berharap agar anak-anak mereka mendapatkan pendidikan yang berkualitas dan nutrisi yang baik selama berada di pondok pesantren.

Upaya Pondok Pesantren Nurul Jadid untuk meningkatkan layanan kos makan santri adalah contoh praktik baik dari komitmen terhadap pembangunan holistik para santri. Diharapkan langkah ini akan memberikan dampak positif dalam mendukung pertumbuhan intelektual dan fisik santri, serta memperkuat fondasi pendidikan pesantren.

(Humas Infokom)

Safari Maulid: Biro Kepesantrenan Nurul Jadid Awali Bulan Maulid dengan Pembacaan Sholawat Simtudduror

nuruljadid.net – Pondok Pesantren Nurul Jadid Paiton Probolinggo mengawali bulan suci Rabi’ul Awwal dengan kegiatan penuh keberkahan. Dalam rangka menyambut Bulan Maulid, Pondok Pesantren Nurul Jadid menggelar acara rutin yakni dengan pembacaan Sholawat Simtudduror, sebuah tradisi yang memperkuat hubungan spiritual dan budaya bagi warga pesantren (16/09/2023).

Acara tersebut diinisiasi oleh Biro Kepesantrenan Nurul Jadid dan dinahkodai langsung oleh kepala Biro KH. Fahmi AHZ, yang selalu berupaya untuk menjalankan aktivitas guna memperkuat batin dan hati serta ikatan ukhuwah (persaudaraan) antar santri. Sholawat Simtudduror dipilih sebagai acara pembuka bulan Maulid karena memiliki makna mendalam dalam Islam, mengingatkan umat akan kehidupan Rasulullah Muhammad SAW yang penuh dengan kebajikan dan kasih sayang.

Sholawat Simtudduror adalah sebuah bacaan sholawat yang terkenal di seluruh dunia Islam. Di Pondok Pesantren Nurul Jadid, acara ini dilaksanakan secara berpindah-pindah. Kegiatan perdana dilaksanakan di Musala Timur Risyadus Sholihin diikuti oleh santri mahasiswa.

Suasana Pembacaan Sholawat Simtut Duror di Musala Timur Riyadus Shalihin bersama KH. Fahmi AHZ

Pada acara ini, KH. Fahmi Abdul Haq Zaini, kepala Biro Kepesantrenan, berharap para santri memahami makna pentingnya Bulan Maulid dan sholawat dalam kehidupan sehari-hari umat Islam. Beliau juga menekankan pentingnya istiqomah mengikuti kegiatan safari Maulid dengan harapan kelak mendapat syafaat dari Rosulullah SAW.

Pembacaan Sholawat Simtudduror dimulai dengan khidmat yang dipimpin oleh Kiai Fahmi. Santri dan pengurus yang hadir berkumpul dalam satu suara memuji Nabi Muhammad SAW, mengisi setiap pojok ruang musala dengan getaran suara yang penuh kekhidmatan dan kekhusyukan.

Ustaz Moh. Alief Hidayatullah selaku sekretaris Biro menjelaskan bahwa kegiatan ini akan dilangsungkan selama 40 hari mulai 01 Robiul Awwal sampai dengan 12 Robiul Akhir 1445 atau bertepatan dengan tanggal 16 September 2023 sampai dengan tanggal 26 Oktober 2023 yang dilaksanakan berpindah-pindah dari musala sampai ke wilayah asrama santri.

Acara Safari Maulid ini bukan hanya tentang pembacaan sholawat, tetapi juga tentang meningkatkan pemahaman keagamaan dan kebersamaan antar santri. Selain itu, acara ini merupakan momen berharga untuk mengenang Rasulullah Muhammad SAW dan ajarannya yang penuh kasih sayang.

Bulan Maulid yang diawali dengan pembacaan Sholawat Simtudduror di Pondok Pesantren Nurul Jadid memberikan inspirasi dan semangat baru bagi seluruh santri dan jamaah yang hadir. Kegiatan ini menjadi momentum yang sangat diantisipasi untuk merajut kebersamaan dan meningkatkan kesadaran spiritual dalam rangka mencapai kebahagiaan sejati.

 

 

(Humas Infokom)

Sunnah Dengan Yang Mewah, Santri Nurul Jadid Berbuka Menu Spesial Usai Puasa Asyura

nuruljadid.net – Biro Kepesantren Pondok Pesantren Nurul Jadid dalam rangka menghidupkan bulan mulia Muharram 1445 H, selain melakukan pembiasaan dan pembinaan santri dengan amalan sunnah seperti puasa Tasu’a dan Asyuro juga melakukan istighasah dan pembacaan al-Ikhlas sebanyak 1000 kali (28/07/2023).

Sebagaimana anjuran, umat Islam yang berpuasa di tanggal 10 Muharram atau puasa Asyuro untuk berbuka dengan yang mewah atau menu spesial yang membedakan dari hari biasanya. ‘Mewah’ disini tidak dimaknai berlebihan namun sesuai tuntunan Rasulullah (sederhana namun bermakna). Sunnah inipun menjadi perhatian pengurus Biro Kepesantrenan Bidang II Penataan Wilayah dan Kesejahteraan Santri yang diketuai oleh ustaz Abdul Ghofur Haikal, M.Pd.

Pasalnya para santri diberikan sajian penambah gizi seperti susu sapi asli dari Krucil Probolinggo dan lauk ayam disertai nasi dan sayur. Ini merupakan menu yang cukup mewah bagi santri yang notabene kesehariannya mengonsumsi menu sederhana seperti nasi dengan tahu, tempe, telur dan sayuran.

Kasi Logistik dan Kosmara ustaz Ahmad Darsono Asy’ari, S.Pd. yang didapuk sebagai ketua pelaksana menyampaikan bahwa menu spesial ini selain memang untuk memuliakan 10 Muharram juga merupakan layanan pesantren untuk memberikan yang terbaik kepada santri sesuai kemampuan.

“Kami menyediakan menu spesial ini selain untuk memuliakan 10 Muharram juga berbagi kebahagian dengan sahabat santri yang tinggal jauh dari orang tuanya,” pungkasnya.

“sehingga sunnah yang lain selain makan mewah juga membahagiakan keluarga dan bagi kami pengurus, saat ini sahabat santrilah keluarga yang perlu kami bahagiakan. Semoga kita semua mendapatkan barokah dan pahala keutamaan 10 Muharram,” ungkap ustaz Darsono dengan mata berkaca-kaca, yang kesehariannya memang akrab dengan para santri.

Saat Azan Magrib berkumandang, rasa bahagia dan gembira seolah telah memperoleh kemenangan meliputi seluruh santri yang tengah berkumpul di teras asrama daerah dan wilayah masing-masing. Tampak wajah sumringah dan senyum lebar yang tak dapat disembunyikan terpancar dari setiap santri saat melihat menu spesial di hadapan mereka sambil bersama melafalkan do’a berbuka puasa yang dipandu wali asuh.

Sebagaimana dalam hadist dari Abu Hurairah, Rasulullah SAW bersabda “Bagi orang yang berpuasa akan mendapatkan dua kegembiraan yaitu kegembiraan ketika dia berbuka dan kegembiraan ketika berjumpa dengan Rabbnya”.

Ada rasa istimewa tersendiri yang dirasakan oleh para santri Pondok Pesantren Nurul Jadid bisa buka bersama pada puasa Asyura khususnya bagi santri baru yang perdana merasakan nuansa berbuka bersama dengan teman barunya.

Tidak berhenti dengan buka bersama, dalam memeriahkan 10 Muharram 1445 H ini, side event yang diinisiasi oleh bidang II Biro Kepesantrenan adalah lomba creative short video tentang keseruan para santri di setiap daerah saat berbuka puasa bersama.

Suksesnya rangkaian kegiatan buka bersama ini juga tidak luput dari partisipasi dan kontribusi semua pihak termasuk support admin bidang II Biro Kepesantrenan yaitu Ikhwan Abdillah, Subhan, Ahmad Ayyubi dan seluruh pengurus wilayah dan masing-masing daerah baik pusat maupun satelit.

 

(Humas Infokom)

10 Muharram, Santri Nurul Jadid Kuatkan Tradisi Amalan Puasa Asyura dan Baca Al-Ikhlas 1000 kali

nuruljadid.net – Bagi umat Islam, bulan Muharram merupakan bulan yang penuh kemuliaan. Bulan ini termasuk dalam empat bulan haram selain Rajab, Dzulqa’dah, dan Dzulhijjah. Momentum ini lantas tidak disia-siakan oleh santri Pondok Pesantren Nurul Jadid dengan memaksimalkan ibadah sunnah secara berjamaah yang dianjurkan seperti puasa Tasu’a kemarin 9 Muharram dan hari ini puasa Asyuro 10 Muharram 1445 H (28/07/2023).

Menurut Al-Qodhi Abu Ya’la, ada dua alasan dan dua makna mengapa Allah SWT menamakannya bulan haram. Pertama, pada bulan itu diharamkan berbagai pembunuhan atau perbuatan keji lainnya.

Kedua, pada bulan ini pula diharamkan melakukan tindakan dan perbuatan haram. Perintah ini lebih ditekankan daripada bulan lainnya karena kemuliaan bulan tersebut. Sebaliknya, pada bulan haram, dianjurkan untuk lebih memperbanyak perbuatan baik dengan melakukan amalan dan ketaatan kepada Allah SWT.

(Santri putra tengah melakukan istighasah dan amalan sunnah 10 Muharram dengan membaca surah Al-Ikhlas 1000 kali di masjid Jami)

Pada bulan Muharram ini, terdapat satu hari yang sangat istimewa yaitu hari kesepuluh Muharram yang biasa disebut hari Asyura. Pada hari Asyura, sangat dianjurkan bagi umat Muslim untuk berpuasa.

Salah satu keutamaan puasa Asyura yang jatuh pada 28 Juli 2023 adalah dihapuskannya dosa-dosa satu tahun yang lalu. Hal ini tentu sangat memotivasi seluruh umat Muslim untuk melaksanakan puasa Asyura dan sangat menyayangkan jika terlewatkan.

Para santri putra dan putri Pondok Pesantren Nurul Jadid Paiton Probolinggo tidak ketinggalan juga melaksanakan puasa sunnah 10 Muharram atau puasa Asyura yang setiap tahunnya telah menjadi tradisi turun-temurun yang dianjurkan oleh para kiai dan Muallim ponpes Nurul Jadid.

(Santri putri tengah melakukan istighasah dan amalan sunnah 10 Muharram dengan membaca surah Al-Ikhlas 1000 kali di musala masing-masing wilayah)

Dari 11.000 peserta didik, sekitar 8.000 santri baik putra maupun putri yang bermukim dengan penuh semangat di tengah cuaca panas dan kering melaksanakan puasa Asyura dengan harapan agar dosa-dosa setahun sebelum dan yang akan datang dapat terhapuskan.

Saat diwawancarai, Kepala Bidang I bagian BK/WA dan Pembinaan Santri Biro Kepesantrenan ustaz Rahmat Toyyib, M.Pd.I menjelaskan bahwa anjuran berpuasa pada setiap tanggal 10 Muharram sebagai salah satu bentuk pembelajaran kepada para santri baik putra maupun putri untuk mengenal keutamaan bulan Muharram dan amalan-amalan yang sangat dianjurkan pada bulan tersebut.

“Jadi sejak kemarin kami melakukan pembinaan dan pendampingan puasa Sunnah tasu’a dan Asyura kepada seluruh santri untuk mengenalkan keutamaan bulan Muharram serta amalan yang perlu dilakukan.” Jelas ustaz Rahmat.

“Selain itu, doa dan zikir termasuk membaca surat Al-Ikhlas sebanyak 1000 kali bersama dilaksanakan pada pagi hari di Masjid Jami, dilanjutkan sore hari menjelang Maghrib acara buka puasa bersama (bukber) melengkapi ibadah puasa yang sedang yang mereka laksanakan,” imbuhnya.

(santri putri melakukan sholat sunnah berjamaah di musalah wilayah pada 10 Muharram 1445 H)

Tidak berbeda dengan santri putri yang juga melaksanakan kegiatan serupa di wilayah masing-masing yang diawali dengan sholat Dhuha berjamaah di Musala masing-masing. Karena pada bulan Muharram ini umat Islam dianjurkan untuk memperbanyak ibadah dan kebaikan serta menghindari keburukan.

Amalan 10 Muharram ini merupakan tradisi yang menjadi ruh pesantren dalam melestarikan nilai-nilai luhur keislaman dan kepesantrenan yang harapannya kelak senantiasa diamalkan oleh para santri sepulang ke tengah masyarakat.

Setidaknya ada dua belas amalan yang sangat dianjurkan untuk dikerjakan bertepatan pada hari kesepuluh dari Bulan Muharram, yaitu: 1) Berpuasa, 2) Mandi sunnah, 3) Bersih-bersih semisal memotong kuku, 4) Memakai celak mata, 5) Shalat sunnah, lebih dianjurkan shalat tasbih, 6) Memperbanyak bersedekah, 7) Berupaya memberikan kebahagiaan kepada keluarga, 8) Menjenguk orang sakit, 9) Menyantuni anak Yatim dan mengusap dahinya, 10) Mengunjungi orang-orang shalih, 11) Bersilaturrahim, 12) Membaca surah al-Ikhlas 1. 000 kali.

 

 

(Humas Infokom)

Upgrading Soft Skill Konseling dan Kewaliasuhan, Pengurus Putri Nurul Jadid Studi Tiru ke Bumi Blambangan

nuruljadid.net – Pengurus Putri Pondok Pesantren Nurul Jadid melakukan studi tiru ke Pondok Pesantren Shafiyah Rogojampi Banyuwangi Jawa Timur (6/7/2023). Kegiatan ini merupakan inisiatif Biro Kepesantren Putri yang melibatkan Biro Pendidikan dan Biro Pengembangan beserta pengurus wilayah untuk upgrading soft skill konseling dan kewaliasuhan dalam rangka ciptakan ruang tenang dan ruang asuh bagi santri.

Rombongan Nurul Jadid disambut hangat oleh Ibu Nyai Nurun Sariyah, pengasuh muda Pondok Pesantren Shafiyah bersama suami dan pengurus. Meskipun ketibaan rombongan Nurul Jadid ke lokasi sudah menjelang malam, tepatnya ba’da isyak namun pihak tuan rumah tetap melayani dengan sangat baik. Keterlambatan ini disebabkan jarak yang cukup jauh dan macet.

(Ibu Nyai Nurun Sariyah, pengasuh muda Pondok Pesantren Shafiyah tengah mendemonstrasikan praktik baik dalam menciptakan ruang tenang dan nyaman melalui permainan)

Kegiatan studi tiru ini berfokus pada pengkondisian ruang tenang dan ruang asuh bagi santri sehingga tumbuh kembangnya bisa optimal. Rangkaian kegiatan berlangsung sejak pukul 20.00 WIB sampai pukul 23.00 malam.

Fokus kegiatan ini banyak memberikan pembelajaran diantaranya bagaimana penguatan diberikan kepada santri baru agar betah di pesantren dan mengenali tindakan preventif terhadap kasus perundungan (bullying). Tidak kalah pentingnya, tips bagaimana merencanakan ruang asuh bersama secara rutin dengan Wali Asuh bahkan untuk Wali Santri.

Perencanaan konten sharing wali asuh menjadi perhatian khusus dalam acara studi tiru ini sebelum membersamai anak asuh. Secara Praktis, dengan permainan atau role playing bersama para santri ternyata bisa menciptakan manfaat yang cukup signifikan apabila dikonsep dan desain sesuai kondisi objektif para santri di lapangan.

(Rombongan pengurus putri Pondok Pesantren Nurul Jadid saat melakukan focus group discussion (FGD) usai pematerian dan demonstrasi)

Peserta studi tiru dari Pondok Pesantren Nurul Jadid terdiri dari Waka. Pesantren II Hy. Hj. Nur Diana Khalidah; Wakil Sekretaris Ny. Muthmainnah Waqid; Waka. Biktren. Ny. Mamnuhatur Rohmah; Waka. Birpend. Ny. Nurul Fajriyah; Kepala BP3M Faiqotul Hikmah; Wakabid. BKWA Madinatul Munawarah; Wakabid. Kelembagaan dan Peserta Didik Lina Surtianah; Wakasi. BKWA & Motivasi Belajar Ny. Mabruroh Zain; kepala wilayah, admin Biktren, staf Biktren, dan staf Birpeng yang ada di wilayah putri pusat.

Diketahui, rombongan menggunakan moda transportasi mini bis pesantren dari Pondok Pesantren Nurul Jadid Paiton menuju Pondok Pesantren Shafiyah Rogojampi Banyuwangi. Banyak ilmu dan pengalaman praktik baik yang bisa didiseminasi kepada pengurus lainnya untuk meningkatkan layanan kepada santri Nurul Jadid.

(Pengurus Putri Pondok Pesantren Nurul Jadid lakukan sesi foto bersama usai kegiatan bersama pengurus Pondok Pesantren Shafiyah Rogojampi Banyuwangi)

Usai kegiatan menjelang tengah malam, sebelum pulang dilakukan sesi foto bersama antara rombongan studi tiru Nurul Jadid dengan tuan rumah. Pengurus putri Nurul Jadid pulang melewati jalur Gumitir sebab jalur Baluran macet total karena pintu masuk ke penyeberangan Gilimanuk tengah ditutup dampak dari cuaca ekstrem.

 

 

(Humas Infokom)

Nurul Jadid Bekali Santri Kelas Akhir Penguatan Furudul Ainiyah dan Fikih Kemasyarakatan

nuruljadid.net – Pondok Pesantren Nurul Jadid secara konsisten lakukan program penguatan keagamaan (Tafaqquh Fiddin) bagi seluruh santrinya sebagai bekal tidak hanya di dunia lebih-lebih untuk akhirat kelak. Melalui kepanitiaan Semarak Ramadan, semua santri kelas akhir baik dari tingkat SLTP sampai dengan SLTA diwajibkan mengikuti serangkaian program yang telah ditetapkan pesantren.

Program khusus telah didesain dan dikonsep oleh pengurus Pondok Pesantren Nurul Jadid di Biro Kepesantrenan terkait muatan kurikulum dan konten program khusus kelas akhir yang meliputi penguatan Furudul Ainiyah dan Fikih Kemasyarakatan. Dua hal ini menjadi sangat penting dan pokok bagi santri kelas akhir yang akan baik melanjutkan studi ke luar pesantren atau mereka yang terlibat langsung di kegiatan kemasyarakatan.

Kegiatan Furudul Ainiyah di bulan mulia dan suci Ramadhan ini sebagaimana pada umumnya yaitu sholat berjamaah 5 waktu, pendalaman alqur’an, sholat tarawih, tadarrus al-qur’an, kajian kitab kuning, dan penguatan pembiasaan kepesantrenan. Sedangkan fikih kemasyarakatan ini lebih fokus kepada praktik fikih ibadah social yang dibutuhkan masyarakat seperti tahlil, taharah, sholat, zakat, etika bermasyarakat, dan hal-hal lainnya sesuai fenomena di masyarakat kita. Selain itu juga terdapat materi pengembangan diri (self-upgrading)

Kegiatan ini dilakukan secara terpisah sebagaimana antara putra dan putri juga tingkat SLTP dan SLTA. Untuk putra disentralkan di Masjid Jami untuk SLTA dan Aula SMPNJ untuk tingkat SLTP. Sedangkan putri ditempatkan di Aula 1 untuk SLTA dan Aula 2 untuk SLTP. Selama kurang lebih dua minggu para santri kelas akhir digembleng dan dibekali dengan materi pokok kepesantrenan dan konten kemasyarakatan. Meski mereka telah mempelajari ini sebelumnya, hanya saja program ini merupakan upaya penguatan agar lebih melekat dalam benak para santri yang akan keluar pesantren.

Ketua panitia Rahmad Toyyid menjelaskan bahwa kegiatan Semarak Ramadan khusus untuk kelas akhir ini menjadi kegiatan pokok Biro Kepesantrenan untuk membekali dan menguatkan kompetensi keilmuan santri pada materi pokok yakni Furudul Ainiyah.

“Memang tujuan diadakannya program khusus kelas akhir ini untuk membekali mereka dengan melakukan penguatan materi Furudul Ainiyah sebagai materi wajib umat Islam dan ditambahkan materi fikih kemasyarakatan sebagai bekal mereka Ketika berada di tengah masyarakat nanti,” ungkap Rahmad.

 

 

(Humas Infokom)

 

MTsN 1 Malang Kunjungi Nurul Jadid, Ngaji Sistem Pengelolaan Pendidikan Lembaga dan Pesantren

nuruljadid.net – Pondok Pesantren Nurul Jadid Paiton Probolinggo terima kunjungan dari Madrasah Tsanawiyah Negeri 1 Malang, Sabtu (25/2) siang. Acara digelar dengan format pembukaan secara seremonial dan dialog interaktif bertempat di aula utama pesantren.

Para pengurus Ma’had, Komite Madrasah, dan juga guru MTsN 1 Malang itu datang menggunakan transportasi darat dari Malang menuju Paiton. Kedatangan rombongan disambut langsung oleh Sekretaris Pesantren Ustaz H. Tahiruddin, Wakil Kepala Biro Kepesantrenan Gus Ahmad Madarik, Sekretaris Biro Pendidikan Ustaz Muhammad Nurtariq, beserta beberapa jajaran pimpinan pesantren dan sekolah/madrasah.

Tujuan kunjungan kali ini tak lain adalah untuk menjalin silaturahmi antar lembaga dan mencari tahu Pengelolaan Ma’had yang bersinergi dari seluruh kegiatannya dengan madrasah. Dilansir melalui website malang.kemenag.go.id. menyatakan bahwa Pondok Pesantren Nurul Jadid dipilih menjadi tujuan studi banding dikarenakan kultur pondok pesantren yang masih salafiyah dengan pengelolaannya yang modern sehingga menghasilkan output yang berkualitas. Banyak alumni dari sini telah berhasil menjadi tokoh, baik di dalam maupun luar negeri.

Sekretaris Pesantren Ustaz H. Tahiruddin dalam sambutannya memberikan pemaparan terkait sejarah singkat pesantren, struktural pengurus, pengenalan lembaga, dan kegiatan santri di pesantren. Disamping itu, beliau juga menjelaskan output alumni yang telah melanjutkan studi di tiongkok bahwa salah satunya berkat hubungan kerjasama antara pesantren dan pemerintah tiongkok.

“Jalan pendidikan ke luar negeri sudah mereka rintis mulai tahun 2007, yaitu dengan pemerintah Cina melalui Konsulat Jendralnya di Surabaya,” jelas beliau.

Bapak Saadi, mewakili kepala madrasah memberikan sambutan. Harapannya dengan kedatangan rombongan dari MTsN 1 Malang ini dapat membawa pulang semua ilmu yang di dapat.

“Dan tidak ada yang ditutup-tutupi sehingga jelas yang nantinya akan disampaikan oleh para pengurus Pondok Nurul Jadid dan bermanfaat guna di Ma’had MTsN 1 Malang,” ungkapnya.

(Potret Wakil Kepala Biro Kepesantrenan Gus Ahmad Madarik tengah memberikan pemaparan awal dalam sesi dialog interaktif)

Usai seremonial, acara dilanjutkan dengan dialog interaktif usai pemaparan awal yang disampaikan oleh Sekretaris Biro Pendidikan Ustaz Muhammad Nurtariq, dan Wakil Kepala Biro Kepesantrenan Gus Ahmad Madarik.

MTsN 1 Malang aktif memberikan pertanyaan, sementara itu jajaran pimpinan dan pengurus pesantren silih berganti memberikan jawaban yang luas dan jelas. Pembahasan dalam forum tersebut meliputi pengelolaan santri di sekolah/madrasah dan asrama, pengelolaan keuangan, kebahasaan, hingga tips dan saran santri bisa goes international.

Pihaknya merasa banyak hal baru yang ditemukan dan didapat dari kunjungan kali ini, terutama tentang pengelolaan Ma’had, dimana sinergitas antara pondok dengan madrasah membangun output yang berkemampuan sesuai dengan peminatan masing-masing santri.

(Humas Infokom)

Pelantikan Berlangsung Khidmat, Biktren Berhasil Kaderisasi Pengurus Wilayah Putra Masa Khidmat 2023-2025

nuruljadid.net – Biro Kepesantrenan (Biktren) Pondok Pesantren Nurul Jadid wujudkan peran pesantren sebagai lembaga kaderisasi dengan menggelar pelantikan Pengurus Wilayah Putra masa khidmat 2023-2025 bertempat di Masjid Jami’ Nurul Jadid pada hari Sabtu (04/02) malam.

Sekretaris Biro Kepesantrenan Ustaz Alief Hidayatullah dalam sambutannya menyampaikan bahwa kegiatan pelantikan pengurus wilayah merupakan kegiatan rutin Biro Kepesantrenan yang diadakan setiap dua tahun sekali dengan tujuan untuk menjaga tali generasi kepengurusan wilayah tetap berkelanjutan (sustainable).

Dalam kesempatan yang sama, beliau menjelaskan tentang pengerucutan dan pemetaan wilayah putra baru, berdasarkan hasil keputusan dari musyawarah bersama pengurus pesantren maka wilayah santri putra sekarang dan kedepannya hanya terbagi menjadi dua, yaitu wilayah pusat dan satelit putra.

“Dari sekarang kita semua perlu pembiasaan, mulai dari penyebutan wilayah menjadi daerah, sampai pemetaannya. Karena dulu wilayah terbagi menjadi banyak sekali, terutama di pusat. Namun sekarang cukup satu saja yaitu wilayah pusat dengan pembagian daerah-daerah di bawahnya, begitu juga dengan wilayah satelit yang masing-masing dipimpin oleh satu orang kepala wilayah,” jelas beliau.

Usai sesi sambutan, dilanjutkan dengan pembacaan Surat Keputusan (SK) Pengurus Wilayah Putra oleh Ustaz Mujibul Khoir, satu persatu pengurus yang namanya terpanggil maju ke depan melalui pemberian SK oleh Wakil Kepala Biro Kepesantrenan Kyai Ahmad Madarik. Kemudian secara resmi dan sakral, dilaksanakan pembacaan ikrar dipimpin oleh Kepala Biro Pendidikan K. Imdad Rabbani, sebanyak 187 orang dari pengurus wilayah dan 17 daerah resmi dikukuhkan.

Dilanjutkan dengan pemberian piagam penghargaan kepada Kepala Wilayah Demisioner oleh Wakil Kepala Biro Kepesantrenan Kyai Ahmad Madarik. Setelah itu berlanjut penobatan pengurus-pengurus teladan dari setiap daerah.

(Potret penyerahan piagam penghargaan oleh Wakil Kepala Biro Kepesantrenan Kyai Ahmad Madarik (kanan) kepada Kepala Wilayah Demisioner (kiri))

Sebelum acara berakhir, MC memberikan kesempatan kepada Wakil Kepala Biro Kepesantrenan Kyai Ahmad Madarik untuk menyampaikan tausiyah kepada seluruh pengurus wilayah terlantik dan para santri yang hadir. Dalam tausiyahnya, beliau mengingatkan kepada seluruh pengurus untuk kembali menata niat dengan jernih sebelum memulai tugas pengabdiannya, karena amanah ini luar biasa dan perlu dilaksanakan dengan baik.

“Santri dititipkan ke pesantren oleh orang tuanya dengan banyak sekali harapan, dan disana tugas kita sebagai pengurus bagaimana bisa mengarahkan anak-anak itu ke jalan yang benar untuk meraih semua mimpinya,” dawuh beliau.

Kemudian beliau juga menyampaikan bahwa standar lulusan santri Nurul Jadid setidaknya menguasai tiga hal, beliau berpendapat diantaranya 1) Furudul ‘Ainiyah; 2) Baca Tulis Al Qur’an; dan 3) Bahasa Arab dasar.

“Harus ada bedanya antara santri yang mondok hanya satu tahun, dua tahun, bahkan lebih dari tahun-tahun itu, apalagi dengan yang tidak mondok,” dawuh beliau.

 

(Humas Infokom)