Pos

Kiai Zuhri Zaini : Manusia Bisa Lebih Mulia dari Malaikat Berkat Ilmu

nuruljadid.net – Pengasuh Pondok Pesantren Nurul Jadid, Paiton Probolinggo, Kiai Zuhri Zaini, memberikan tausiah pada penutupan Orientasi Santri Baru (Osabar) 2022, Senin (04/07/2022) malam. Beliau menuturkan akan pentingnya sebuah ilmu dan akhlakul karimah.

Kiai Zuhri menerangkan bahwa ayat yang pertama kali turun yakni perintah membaca atau iqra’. Kata beliau ini menunjukkan betapa pentingnya ilmu dan ilmu juga menaikkan derajat manusia.

“Bukan hanya manusia yang terangkat derajatnya saat ada ilmunya. Bahkan microphone pun akan terangkat derajatnya ketika dibuat oleh orang yang berilmu,” jelas beliau.

Akan tetapi, Kiai Zuhri mengingatkan ilmu yang bisa mengangkat derajat manusia yakni ilmu yang berguna. Sebab, kata beliau, terdapat orang yang memiliki ilmu tapi tidak berguna, yaitu, ilmu santet.

“Ilmu santet itu juga sebuah ilmu. Tapi membahayakan orang lain,” dawuhnya. Itu sebabnya, ilmu semacam itu bukan malah mengangkat derajat manusia, beliau menegaskan, tetapi justru menurunkannya.

Ilmu yang paling penting dan bisa mengantarkan kesuksesan bagi manusia, Kiai Zuhri melanjutkan, ialah ilmu agama. Sebab, ilmu agama berasal dari Allah yang menciptakan alam semesta ini dan juga manusia.

(Pengasuh Kiai Zuhri Zaini saat tengah memberikan tausyiah kepada santri bari pada acara Grand Closing OSABAR 2022 di Aula 1 Pondok Pesantren Nurul Jadid)

Begitu pula orang pinter atau alim. Jika ia memiliki karakter buruk dan akhlaknya jelek, maka ilmunya hanya akan dibuat main-main saja. “Mungkin kita sudah sering mendengar para koruptor yang mengambil harta masyarakat dan negara untuk kepentingan pribadi atau kelompok.”

“Koruptor itu bukan orang bodoh. Mereka berpendidikan tinggi. Bahkan mereka tau bahwa korupsi itu salah dan buruk,” imbuh beliau. Akan tetapi kenapa mereka korupsi. “Ilmu saja tidak cukup. Harus diiringi dengan membina karakter dan akhlak,” tegas Kiai Zuhri.

Meskipun ilmu itu penting, kata beliau, namun jika berada pada orang yang tidak berakhlak, maka akan menjadi buruk dan celaka. “Binalah karakter kita, binalah akhlak kita. Karena itu yang akan membuat kita mulia.”

Menurut beliau. 0ara santri baru juga diarahkan agar dipondok jangan numpuk ilmu saja. Tetapi, harus membina akhlakul karimah.

Pengasuh juga menyemangati para santri agar selalu bekerja keras dalam menuntut ilmu dan membina akhlakul karimah. Sebab, kata Kiai Zuhri, tidak mungkin cita-cita tinggi dicapai kalau bermalas-malasan.

Semangat belajar tersebut mesti diiringi dengan berdoa dan mendekatkan diri kepada Allah. Sebab, sekeras apapun berusaha, beliau melanjutkan, tanpa pertolongan Allah, itu akan sulit. Lantaran yang menentukan keberhasilan itu adalah Allah. “Akan tetapi jangan hanya minta tolong dan memohon. Kewajiban kita kepada Allah juga dikerjakan,” jelas Kiai Zuhri.

Di penghujung tausiah, Kiai Zuhri menyampaikan, agar tetap harus bersemangat. “Bukan hanya saat Osabar saja. Tetapi, di kegiatan-kegiatan pesantren nantinya.” Beliau memohon agar para santri mendapatkan pertolongan dan bimbingan Allah. “Semoga diberikan kesuksesan oleh Allah,” harap beliau.

 

sumber: jatim.beritabaru.co

Galeri Foto: Tausiyah Pengasuh dan Sosialisasi Liburan Ramadhan

Kiai Zuhri, Ikhtiar Dhohir Dengan Mengikuti Petunjuk Dokter

Kiai Zuhri, Ikhtiar Dhohir Dengan Mengikuti Petunjuk Dokter

nuruljadid.net – Pengasuh Pondok Pesantren Nurul Jadid Paiton, Probolinggo, Jawa Timur KH. Moh. Zuhri Zaini mengajak para santri untuk melakukan ikhtiar dalam menghadapi Corona Virus atau dikenal dengan Covid-19. Ajakan Kiai Zuhri disampaikan pada saat memberikan tausyiah libur Ramadhan Santri di Masjid Jami’ Nurul Jadid, pagi tadi (31/03).

“Kalau tidak melakukan ikhtiar karena sok yakin takdir. Kalau terjadi takdir Allah berupa sakit, maka kita akan disalahkan orang. Salah itu bukan apa yang terjadi tapi apa yang kita lakukan,” Ucap Kiai Zuhri.

Kiai Zuhri melanjutkan, ikhtiar dhohir itu penting dengan tetap mengikuti petunjuk yang dibuat oleh dokter.

Setelah pengarahan dari Pengasuh dilanjutkan dengan sosialisasi pencegahan penyebaran corana virus (covid-19) oleh ketua tim satgas.

Beberapa hal disampaikan ketua satgas termasuk diantaranya menjaga diri dari kerumunan orang (social distancing) dan juga menjaga jarak dengan orang lain (psycal distancing). Ini merupakan salah satu cara untuk mencegah penyebaran corona virus.

“Santri diam dirumah saja, bisa membantu orang tua. Kurangi keluar rumah khawatir terjangkit wabah corona virus. Diam dirumah paling aman untuk menutup penularan virus tersebut,” Jelas Ustadz Abdul Kholid Fauzi Ketua Tim Satgas Covid-19.

 

Penulis : Junaedi

Editor : Ponirin Mika

KH. Moh. Zuhri Zaini; Dalam Keprihatinan ini, kita perlu Memperkuat Sambungan kepada Allah SWT

nuruljadid.net – “Jadi kita sekarang ini memang sedang prihatin, maka dalam keprihatinan ini kita perlu memperkuat sambungan kita pada Allah Swt, keyakinan dan tawakkal kita pada Allah Swt, dengan tetap tidak mengurangi ikhtiar, dengan memperbanyak dzikir, perbanyak amal-amal ibadah, baik ibadah ritual seperti sholat baca qur’an dan lain sebagainya. Termasuk tetap belajar dan tetap ibadah-ibadah sosial barangkali tentu yang tidak mengandung resiko”.

Hal itu didawuhkan oleh Pengasuh PP. Nurul Jadid, KH. Moh Zuhri Zaini pada acara Do’a Bersama dan Tausiyah Pengasuh dalam rangka Haul Masyayikh PP. Nurul Jadid ke 71. Ahad Pagi (22/03/2020).

Selain itu, beliau turut merasa senang karena tetap bisa melaksanakan kegiatan tahunan PP. Nurul Jadid itu dengan sehat dan selamat.

“Haul masyayikh ini merupakan dalam rangka rasa syukur kita, selain syukur atas tetap eksisnya pesantren ini, syukur kepada jasa-jasa para muassis dan para masyayikh lebih-lebih kita masih diberi kesehatan dan keselamatan oleh Allah Swt sekalipun kita melaksanakan kegiatan ini dalam keadaan keprihatinan. Dalam keadaan seperti ini tentunya kita lebih memperkuat keyakinan dan keimanan kita pada Allah Swt. Apalagi pas ini momennya pelaksanaan peringatan ini tentunya do’a pada tanggal 20 rajab terjadinya isra’mi’raj yang merupakan saat itu, disebut tahun keprihatinan,” tutur beliau dengan ramah lembut.

Beliau menjelaskan, untuk tetap tenang didalam marak wabahnya virus corona, karena keyakinan bahwa semua yang berkuasa adalah Allah Swt. Dan dengan tenang dapat meningkatkan imunitas mental dan batin.

“Ketika Nabi Muhammad Saw mengalami keprihatinan dalam perjalanan dakwah beliau, dimana 2 penolong sekalipun penolongnya itu istri dan paman beliau, nabi begitu prihatin, begitu sedih sehingga beliau mencari bantuan ke dhaif dan ternyata disana orang mekkah mendahului nabi. Dan orang mekkah itu memprovokasi orang dhaif. Ketika nabi sampai di dhoif beliau bukan disambut dengan sambutan yang kehormatan tapi pemuda – pemuda dhoif melempari nabi dengan batu sehingga beliau berdarah – berdarah. Maka lalu Allah Swt memperlihatkan kekuasaannya dengan panggilan beliau untuk menghadap kepadanya melalui isra’ mi’raj. barang kali ini adalah keprihatinan kita dan ini juga merupakan bukti nyata kekuasan Allah Swt jadi kita dengan ikhtiar dengan kemampuan teknologi dan sebagainya jika Allah Swt menghendaki lain. Maka semuanya akan menjadi lumpuh,” tutur beliau.

“Tentu seperti yang disampaikan oleh kepala pesantren bahwa keyakinan kita kepada Allah Swt, ketawakkalan kita kepada Allah Swt bukan berarti menghilangkan ikhtiar, artinya tawakkal itu adalah kita mengandalkan Allah Swt tidak mengandalkan ikhtiar kita, tapi kita tetap ikhtiar. Satu ketika Khalifah Sayyidina Umar melihat orang pengangguran tidak bekerja, beliau menegur. “Kamu itu kaum apa?” Kemudian kaum itu menjawab, “kami ini kaum tawakkal”. Lalu Khalifah Sayyidina Umar berdawuh, “langit tidak akan menurunkan hujan emas”. Artinya kalau kamu ingin makan tidak cukup tawakkal – tawakkal saja,” ungkap beliau sembari tersenyum.

Kemudian beliau bercerita tentang sebuah pasukan yang dikirim Khalifah Sayyidina Umar ke Syam. Sampai ditengah perjalanan pasukan mendengar informasi bahwa daerah dituju terdapat sebuah wabah yang sangat mematikan. Lalu sahabat ada yang berpendapat “Kita teruskan saja, semua yang menentukan itu Allah Swt” sebagian yang lain berkata, “jangan, sebab kita inikan tidak boleh menjerumuskan diri kepada kebinasaan,” dan akhirnya lapor kepada Khalifah Sayyidina Umar. Dan Khalifah Sayyidina Umar menyuruh mereka untuk pulang. Kemudian Khalifah Sayyidina Umar berdawuh “kita ini lari dari takdir Allah Swt ke takdir yang lain,” cerita beliau.

“Jadi pulang itu merupakan takdir Allah Swt, sehingga selamat dari wabah kalau kita maksa kemudian kita sakit, itu juga takdir Allah Swt. Tapi takdir yang kurang enak,” jelas beliau.

Tampak para pengurus, karyawan, dan dosen memadati lantai 1 Masjid Jami' Nurul Jadid dalam acara Doa Bersama dan Tausiyah Pengasuh

Tampak para pengurus, karyawan, dan dosen memadati lantai 1 Masjid Jami’ Nurul Jadid dalam acara Doa Bersama dan Tausiyah Pengasuh

Lebih lanjut, beliau menyarankan kepada seluruh hadirin untuk mencari takdir yang lebih baik. Perkara terdapat takdir yang kurang baik untuk diambil hikmahnya, sebab semua ada hikmahnya termasuk sakit dan sabar.

“Oleh karena itu, saya berharap prosedur kesehatan yang sudah ditetapkan oleh otoritas tentang kesehatan itu saya harap kita lakukan semaksimal kita tapi jangan perlu panik dan setres. Jadi seperti tadi yang telah disampaikan oleh klinik jaga kebersihan dan peluang infeksi virus baik tertular maupun menularkan ini kita upayakan sebisa mungkin kecuali sangat darurat seperti hari ini,” harap beliau.

Selain itu, beliau turut berpesan kepada para santri untuk mengikuti instruksi dari para pengurus, menjaga daya tahan tubuh, dan olahraga ringan.

“Kemudian, tentu kewaspadaan itu tidak hanya menjaga stamina dan daya tahan tubuh tapi misalnya disekitar kita ada orang yang terindikasi penyakit, saya kira perlu segera dengan kesadaran sendiri untuk cek kesehatan. Tapi tidak mesti yang indikasi – indikasi itu mesti virus corona,” ungkap beliau.

“Sekedar ungkapan syukur saya atas nikmat ini. Pertama, tetap eksisnya pesantren ini dan kedua kita tetap diberi kesehatan dan ini perlu kita rawat dan perlu kita jaga dan mengikuti prosedur kesehatan yang telah diterapkan,” pungkas beliau.

Penulis : Ahmad

Editor : Ponirin

Galeri Foto: Pelantikan Panji Pelopor dan Tausiyah Pengasuh

KH. Moh. Zuhri Zaini, Mengabdi di Pesantren Harus Ikhlas

nuruljadid.net – “Mengabdi pada dasarnya belajar, begitupun mengajar. Pada dasarnya sedang belajar, tentu dalam mencapai hasil yang baik yang pertama, ikhlas karena Allah SWT. Sebab keikhlasan disamping mendatangkan pahala, juga ada pertolongan dari Allah SWT”.

Hal itu didawuhkan oleh Pengasuh Pondok Pesantren Nurul Jadid, KH. Moh. Zuhri Zaini pada kegiatan Tausiyah Pengasuh yang diadakan oleh Biro Kepesantrenan bidang Penataan Wilayah. Senin (17/02/2020).

Kemudian, KH. Moh. Zuhri Zaini menjelaskan jika ibadah dilakukan dengan bersungguh – sungguh akan ada barokah dan pahalanya, “Jadi kalau pahala itu di akhirat dan barokah itu dunia dan akhirat,” ungkap beliau

beliau turut menerangkan bahwa wali asuh merupakan ujung tombak pesantren. melalui wali asuh pesantren mendidik santri, menanamkan ruhul jihad dan pengabdian. Sebab, menurut beliau sebanyak apapun ilmu yang dimiliki dan lengkapnya fasilitas jika tidak memiliki semangat juang dan pengabdian maka hal itu tidak akan berguna.

“Sebab dulu ada kiai mondoknya di PP. Zainul Hasan Genggong, yang satu sekarang ada di Probolinggo dan satunya lagi di Bondowoso. Waktu mondok di Genggong, karena cara dulu mengabdinya itu sangat perhatian terhadap kiainya yaitu KH. Hasan Genggong. Jadi setiap kiainya itu pergi ke masjid itu sandalnya langsung dibetulkan dan dibalik menghadap keluar. Dan suatu ketika cincinnya Kiai Hasan Genggong itu jatuh ke waduknya toilet. Dan 2 santri itu secara sukarela mengaduk – aduk isi WC itu. Untuk mencari cincin tersebut.,” cerita beliau.

Menghayati: Tampak para wali asuh sedang takdzim menghayati tausiyah dari pengasuh PP. Nurul Jadid, KH. Moh. Zuhri Zaini

Menghayati: Tampak para wali asuh sedang takdzim menghayati tausiyah dari pengasuh PP. Nurul Jadid, KH. Moh. Zuhri Zaini

“Tapi bagaimana ketika 2 santri itu pulang ke masyarakat?, ilmunya tidak seberapa. Tapi ketika pulang mereka itu bisa mendirikan pesantren dan mungkin tidak mengajar sendiri tapi mencari guru dan ustadz,” lanjut beliau.

Lebih lanjut, beliau turut menuturkan manfaat dari pengabdian selain bisa mendapatkan ilmu dan keterampilang secara langsung. “Lalu dari mengabdi inikan termasuk bekerja, ilmu kita akan bertambah. Dan ilmu kita itu bisa dikatakan ilmu ladunni. Jadi tanpa belajar secara khusus tapi ilmu kita bertambah,” ungkap beliau.

Selain itu, beliau menyarankan kepada segenap pengurus dan wali asuh yang hadir untuk mengabdi dengan ikhlas, karena dengan ikhlas. Selain bernilai ibadah dan mendapatkan pahala tapi juga akan mendapatkan pertolongan.

“Dan kalau kita berjuang berkhidmat mengabdi dengan ikhlas berarti kita bekerja untuk Allah SWT, seolah-olah seperti itu, sekalipun Allah SWT itu tidak butuh pertolongan kita, tidak butuh jasa kita, sebab apa yang kita lakukan itu kembalinya kepada kita,” tutur beliau.

“Kalau kita bekerja untuk Allah SWT, maka Allah SWT akan memfasilitasi kita. Tentu akan lebih sempurna, tapi tidak hanya dalam bentuk materi tapi bisa saja dalam bentuk non materi berupa kelapangan hidup, kesehatan, dan ketenangan. Itu suatu rezeki yang besar. Apa artinya materi yang melimpah kalau kita sakit – sakitan atau punya banyak masalah hidup,” lanjut beliau.

Bertempat di Aula Pesantren I, beliau menerangkan bahwa dalam mengabdi tidak cukup ikhlas. Namun butuh strategi, rencana, dan pembagian tugas. Kemudian pentingnya tukar pengalaman antar sesama wali asuh dan pengurus.

“Insya Allah dengan demikian, jika kita bekerja dengan proffesional mengembalikan semuannya kepada Allah SWT, bukan kepada kemampuan kita. Maka pengabdian kita itu akan membuahkan hasil, sekalipun tetap semuanya itu kembali kepada Allah SWT,” tutur beliau dengan lemah lembut.

Diakhir tausiyah, beliau merekomendasikan kepada seluruh wali asuh jika telah melaksanakan semua tugas pokoknya untuk ikhtiar. “Sebagai simbol dan ungkapan kita itu, tawakkal dengan do’a. sebab kita yakin bahwa yang menentukan hasil itu Allah SWT apalagi ini yang terkait manusia yang paling inti itu Hati. Jadi doakan. Kalau perlu pas malem kita sholat tahajjud dan sholat hajat, kalau ada anak asuh yang nakal, jadi didoakan,” ungkap beliau.

“Jadi pendekatan kita kepada para santri ini, pendekatan persuasif. Sebaiknya jangan lalu dengan cara menakutkan apalagi kekerasan, walaupun terkadang perilaku santri itu menjengkelkan. Tapi disitulah letak jihadnya jihad nafsu melawan emosi. Semoga dengan kita bertemu seperti ini, semangat kita akan terus menyala. kita semuanya, saya dan kepala wilayah, dan pengurus pesantren juga,” pungkas beliau.

Penulis : Ahmad

Editor : Ponirin

Galeri Foto: Tausiyah Pengasuh kepada seluruh Pengurus dan Wali Asuh

Perkuat Ruhul Khidmah Pengurus dengan Tausiyah Pengasuh

Perkuat Ruhul Khidmah Pengurus dengan Tausiyah Pengasuh

nuruljadid.net – Pada hari ini Senin (17/02/2020), Biro Kepesantrenan bidang Penataan Wilayah Pondok Pesantren Nurul Jadid, Paiton, Probolinggo mengadakan kegiatan Tausiyah Pengasuh PP. Nurul Jadid, KH. Zuhri Zaini. Kegiatan tersebut dikhususkan kepada para Pengurus dan Wali Asuh.

Kegiatan yang bertempat di Aula Pesantren I itu mengangkat tema “Menumbuhkan Ruhul Khidmah untuk Menjadi Pengabdi Proffesional”.

Menurut Ust. Saili Aswi Sekretaris Biro Kepesantrenan mengatakan, kegiatan tersebut bertujuan untuk menambah khazanah keilmuan dan Ruhul Khidmah para pengurus dan wali asuh PP. Nurul Jadid.

“Selain itu, kegiatan ini sebagai wadah motivasi bagi kita, sehingga kita bisa lebih bersemangat dalam mengabdi di PP. Nurul Jadid,” ungkap Ust Saili Aswi saat memberikan sambutan sebelum tausiyah dimulai.

Menyimak: Tampak para pengurus serta wali asuh sedang khidmat menyimak tausiyah pengasuh

Menyimak: Tampak para pengurus serta wali asuh sedang khidmat menyimak tausiyah pengasuh

“Kemudian hal ini juga sebagai ajang silaturahim antara seluruh pengurus dan wali asuh kepada Pengasuh, karena nantinya setelah tausiyah akan ada sesi sowan kepada beliau (Pengasuh PP. Nurul Jadid) secara langsung,” imbuhnya.

Masih dalam sambutan Ust, Saili (panggilan keseharian Ust. Saili Aswi). Tausiyah yang dilaksanakan setelah sholat jamaah maghrib itu akan dilaksanakan setiap 2 minggu sekali.

“Untuk kegiatan Tausiyah perdana ini, langsung dipimping oleh Pengasuh PP. Nurul Jadid, KH. Moh. Zuhri Zaini. Dan untuk kedepannya akan dipimpin oleh para dewan pengasuh lainnya,” pungkasnya.

Penulis : Ahmad

Editor : Ponirin

KH. Moh. Zuhri Zaini; Keragaman itu Bukan Masalah, Tapi adalah suatu Kekayaan

KH. Moh. Zuhri Zaini; Keragaman itu Bukan Masalah, Tapi adalah suatu Kekayaan

nuruljadid.net – “Jadi dengan merantau seperti ini kita bisa mengetahui keragaman. Dan keragaman itu bukan masalah, tapi justru adalah suatu kekayaan. Kalau kita menyikapinya sebagai suatu kekayaan, kaya akan budaya kita. Insya allah hal itu akan menjadi aset dan modal bagi kita. Sebab, maaf. Sekarang ini banyak orang yang alergi dengan perbedaan jadi dengan perbedaan – perbedaan ini dianggap penyakit”

Hal itu didawuhkan oleh Pengasuh Pondok Pesantren Nurul Jadid, KH. Moh. Zuhri Zaini. Tatkala menghadiri acara Lepas Kenangan Studi Lapangan Siswi MA Darussalam Sungai Mancur, Bungo, Jambi. Kamis (30/01/2020).

Acara yang bertempat di Aula Mini Universitas Nurul Jadid itu. Beliau turut menerangkan, usia seperti para siswa dari MA Darussalam tersebut merupakan usia – usia emas. “Kalau dirawat dengan baik nantinya akan mahal dimasa depan, sebab saya yakin dari adik – adik ini akan lahir penerus estafet perjuangan para pendahulu yang sudah sepuh – sepuh ini. yang kemudian akan menjadi harapan umat dan harapan agama. Oleh karena itu, adik – adik ini selama 3 bulan ini hanya masih awal bukan pertengahan maupun akhir jadi diteruskan,” tutur beliau dengan ramah lembut.

Tampak Pengasuh (tengah dua dari kiri) saat foto bersama dengan para siswi MA serta pimpinan Darussalam

Tampak Pengasuh (tengah dua dari kiri) saat foto bersama dengan para siswi MA serta pimpinan Darussalam

Selain itu,  beliau turut menjelaskan dengan kehadiran para siswi MA Darussalam di PP. Nurul Jadid, hal itu pasti menambah pengalaman dan faedah bagi pengurus PP. Nurul Jadid.

“Kami bangga dengan kehadiran adik – adik sekalian ini, mudah – mudahan silaturahim ini terus bisa bersambung tidak hanya putus sampai disini tapi katanya ada harapan akan ada lagi(studi lapangan, red) insya allah kami siap dengan tangan terbuka akan menerima dan mudah – mudahan kami yang disini nanti bisa silaturahim juga. Insya allah,” pungkas beliau.

Penulis : Ahmad

Editor : Ponirin

KH. Moh. Zuhri Zaini; Semoga MUSKERWIL ini Bisa Memperkokoh Hubungan Silaturahim Kita

KH. Moh. Zuhri Zaini; Semoga MUSKERWIL ini Bisa Memperkokoh Hubungan Silaturahim Kita

nuruljadid.net – “Adalah suatu kehormatan karena pondok pesantren nurul jadid ditunjuk tempat MUSKERWIL, ini merupakan suatu kebanggaan dan besar barokahnya baik barokah yang tampak dan barokah yang tidak tampak dan semoga MUSKERWIL ini bisa memperkokoh hubungan silaturahim kita serta persatuan bangsa dan negara indonesia”.

Hal itu disampaikan oleh KH. Zuhri Zaini Pengasuh PP. Nurul Jadid saat mengisi sambutan diacara pembukaan MUSKERWIL Jawa Timur dihadapan 700 peserta MUSKERWIL.

Sebagai tuan rumah, beliau turut mengingatkan kepada para peserta MUSKERWIL bahwasanya banyak ajaran yang dimungkinkan akan mengancam persatuan dan keutuhan bangsa.

Kiai Zuhri pada saat sambutan di Pembukaan MUSKERWIL I PWNU JAWA TIMUR

Kiai Zuhri pada saat sambutan di Pembukaan MUSKERWIL I PWNU JAWA TIMUR

“Tentu tugas kita, para kaum Nahdliyin untuk membentengi diri dari paham dan ajaran tersebut. Karena pada dasarnya NU dan pesantren tidak bisa dipisahkan dengan keutuhan bangsa dan negara,” tutur beliau dengan lembut.

Pengasuh PP. Nurul Jadid ke 4 itu, bersyukur karena pada era pemerintahan Presiden Jokowi telah meresmikan Hari Santri Nasional pada tanggal 22 Oktober 2019.

“Namun kita tidak boleh terlalu berbangga, karena yang punya jasa adalah pendahulu kita. Semoga kita menjadi sebaik-baik manusia melalui jamiyah nu kita bisa meneruskan estafet kepemimpinan khususnya kepada para santri yang masih ada di pesantren ini,” pungkas beliau.

Penulis: Ridwan

Editor: Ponirin

Kh. Moh. Zuhri zaini: Barokah itu Diukur Dari Kebermanfaatan

Peran Santri Dalam Meredam Intoleransi

nuruljadid.net-Toleransi ditinjau dari perspektif islam adalah tasammuh (menerima dan meghargai perbedaan), dalam artian tidak memusuhi dan mengingkari, namun bukan berarti kita juga mengikuti terhadapat perbedaan tersebut, melainkan kita hanya menghargai dan menghormati perbedaan tersebut. Karena, mengikuti dan menghargai itu berbeda makna.

Namun, seiring dengan berkembangnya zaman rasa toleransi sering kali terabaikan dalam kehidupan sehari-hari. Terutama, bagi kaum radikalis yang sering kali menjadi biang kerok dibalik merebaknya kasus-kasus intoleransi di nusantara ini.

Perlu diketahui, radikalisme itu bersumber dari karakter masing-masing orang, namun radikalisme tak pernah diajarkan didalam agama islam. Sebab, dari historisnya (sejarahnya) agama islam merupakan agama yang mengajarkan toleransi, sebagaimana yang telah dipercontohkan oleh nabi Muhammad SAW.

Selain itu, perlu digaris bawahi juga bahwa radikal bukan hanya berbentuk kekerasan, namun juga bisa berbentuk pemikiran seperti filsafat, akan tetapi filsafat bukanlah radikal yang bersifat keras melainkan hanya berupa bentuk pemikiran.

Orang yang bersikap radikal rata-rata tidak bisa diajak kompromi, namun tak semua orang yang radikal tak bisa dikompromi, sebagian dari mereka masih bisa diajak kompromi, yakni orang radikal dalam aspek alur pemikiran bukan dalam sikap dan tindakan.

Berfikir radikal itu tidak dilarang, asalkan tidak melakukan tindakan radikal, karena yang menjadi masalah utama ialah tindakan radikal, jadi radikal masih bisa dibenarkan ialah bila tidak berbentuk tindakan, namun hanya berupa pikiran. Sungguh pun demikian radikal dalam pemikiran bisa saja berubah menjadi radikal dalam bentuk sikap dan tindakan.

Memasuki tahun pemilu, orang orang yang memiliki sifat radikal mulai bermunculan dan melakukan tindakan intoleransi, mereka berdalih bahwa tindakan yang mereka lakukan benar berdasarkan agama maupun faktor lain. Namun, itu hanyalah sebuah alasan belaka sebagai pembenar atas tindakan radikal atau intoleransi yang telah mereka lakukan.

Sejatinya tabi’at politik cenderung kepada perbedaan, masing masing partai politik pastilah memiliki pendapat yang berbeda beda, jadi perpolitikan sangatlah penuh kontroversi. Dalam dunia islam, kita juga mengenal khilafiyah, sebab, perpecahan yang terjadi dalam agam islam itu juga disebabkan oleh politik.

Seyogyanya partai politik, haruslah menjadi wadah untuk menampung aspirasi masyarakat, tentunya partai politik harus bisa menjalankan amanah yang mereka emban dengan sebaik mungkin. Sebab, partai politik juga pilar demokrasi.

Berdasarkan realitanya, banyak politisi tak lagi menjadi uswah (contoh) yang baik bagi masyarakat, melainkan mereka mengadu domba masyarakat, untuk mencari keuntungan bagi diri dan kelompoknya.
Demi terwujudnya kedamaian di indonesia, seharusnya toleransi perlu ditingkatkan. pemerintah seharusnya bersikap adil, karena penguasa jugalah berpolitik. Penguasa juga harus memberikan contoh yang baik dan jangan malah berbuat tindakan intoleransi.

Karena, hal itu dapat berimbas terhadap merebaknya kasus intoleran yang dilawan dengan intoleran, sehingga tindakan tersebut bukan menjadi solusi, melainkan akan menyebabkan situasi intoleran yang ada di Indonesia akan jauh lebih membengkak.

Indonesia juga merupakan negara yang berdasarkan hukum, sehingga segala penyelesaian permasalahan antara individu atau kelompok haruslah melalui jalur hukum. Jadi, ketika kita ingin meminimalisir kasus intoleransi yang terjadi, maka kita harus meredamnya dengan jalur hukum bukan malah membalasnya dengan perbuatan intoleran juga (menghakimi sendiri).

Sebagai kaum sarungan (santri),kita juga harus ikut serta dalam meredam kekerasan para kaum radikalis.Tentunya, sebagai santri yang berpegang teguh pada ajaran nabi Muhammad SAW, kita harus dapat mewujudkan ajaran toleransi yang telah diajarkan oleh beliau. Bukan malah ikut-ikutan dalam aksi-aksi yang berbau radikalis.

Ekstrim dan radikal memang punya keserupaan, keduanya merupakan sifat yang memang telah ada dalam diri manusia. Sifat ekstrim dan radikal bahaya jika saja tidak berbentuk tindakan kekerasan dan tidak melibatkan orang lain sebagai korbannya. Jadi, tindakan ekstrim dan radikal sangatlah bahaya jika dilakukan dengan kekerasan, karena memang mereka meliki perawakan yang keras jika ditinjau dari luar.

Setiap orang yang berpendirian, pastinya, akan mengartikan toleransi sebagai suatau kewajiban dalam bermasayarakat, dan mereka juga akan memaknainya sebagai suatau sifat penghormatan dan menghargai terhadap perbedaan. Bukan malah menjadikan toleransi sebagai tuntutan mengikuti pendapat yang salah.

Kendati demikian pun juga diperuntukkan bagi santri untuk harus tetap berpegang teguh terhadap ajaran ahlus sunnah wal jamaah yang mengajarkan tentang tasammuh (toleransi), dan menjadi solusi dari intoleransi yang terjadi. Sebab, santrilah manifestasi murni ajaran kanjeng nabi.

 

Penulis : Pengasuh Pondok Pesantren Nurul Jadid Paiton Probolinggo

Sumber : Majalah Kharisma MANJ

KH. Najiburrahman; Perkembangan Teknologi itu Setidaknya Buat Kita Lebih Percaya kepada Akhirat

KH. Najiburrahman; Perkembangan Teknologi itu Setidaknya Membuat Kita Lebih Percaya kepada Akhirat

nuruljadid.net – “Hikmah dari perkembangan teknologi itu setidaknya membuat kita lebih percaya kepada adanya akhirat, lebih percaya kepada rukun iman, lebih percaya kepada turunnya wahyu dari langit. kalau kita saja bisa kirim SMS apalagi Allah Swt kepada nabinya, ya sangat mungkin !”.

hal itu disampaikan oleh Wakil Pondok Pesantren Nurul Jadid, KH. Najiburrahman Wahid saat mengisi acara Tausiyah Pengasuh di Aula SMA Nurul Jadid.

Acara yang bertemakan “Pendidikan Pondok Pesantren dalam Menyiapkan Generasi 4.0” itu, beliau menjelaskan perkembangan teknologi dari revolusi industri 1.0 sampai 4.0 itu untuk kemudahan. Pada zaman sekarang semuanya dapat dilakukan menggunakan Handpone, contoh Nelpon, SMS, Merekam video, audio, membuka mushaf Al-qur’an maupun kitab.

“Pernah dulu ada seseorang berkata kepada kiai. Kiai, sampean kalau ke pengajian cukup bawa HP saja tidak usah bawa kitab, karena di HP sekarang ini sudah bisa diisi kitab jadi kiyai mudah tidak repot. kemudian si kiyai berkata,  kalau mudah sih iya, tapi apakah barokah? jadi kalau ngaji ya bawa kitab saja tidak usah pakai HP agar ada barokahnya.”imbuh beliau.

Peserta didik SMA Nurul Jadid Program Unggulan sedang menyimak Tausiyah Pengasuh

Peserta didik SMA Nurul Jadid Program Unggulan sedang menyimak Tausiyah Pengasuh

Lebih lanjut, beliau yang juga menjabat sebagai Wakil Rektor II Universitas Nurul Jadid menyarankan agar peserta didik SMA Nurul Jadid itu untuk menguasai Ilmu – Ilmu pengetahuan dan teknologi agar menjadi ‘tangan yang diatas’ (orang yang dermawan, red).

Diakhir tausiyah, beliau memperingatkan untuk hati – hati dalam menggunakan teknologi, karena terkadang teknologi itu membawa budaya tertentu dan harus disaring dengan ilmu agama.

“Karena itu prinsip PP. Nurul Jadid, menjaga nilai agama yang baik dan mengadopsi nilai baru yang lebih baik. Contohnya menjaga nilai agama yang baik seperti mengaji kitab, apa itu mengaji kitab, mengaji kitab itu berarti belajar agama langsung ke sumbernya, ke pengarangnya dan langsung ke Rasulullah SAW, kalau nilai baru yang lebih baik contohnya belajar Bahasa mandarin untuk memperluas wawasan,” pungkas beliau.

Penulis : Ahmad

Editor    : Ponirin

Pendidikan Pondok Pesantren Dalam Menyiapkan Generasi 4.0

Galeri Foto: Pendidikan Pondok Pesantren Dalam Menyiapkan Generasi 4.0

KH. Zuhri Zaini; Bapak Habibie itu Pekerja Keras dalam Belajar dan Mengabdi

KH. Zuhri Zaini; Bapak Habibie itu Pekerja Keras dalam Belajar dan Mengabdi

nuruljadid.net – Pengasuh Pondok Pesantren Nurul Jadid, KH. Zuhri Zaini turut menyampaikan duka mendalam atas wafatnya Presiden ketiga Republik Indonesia, Prof. Dr. Ing. H. Bacharuddin Jusuf Habibie, FREng, Kamis (12/09/2019).

“Beliau sebagai tokoh bangsa tentu wafatnya beliau itu suatu kehilangan, dan tentu ikut berbelasungkawa dengan harapan amalan ibadah dan pengabdian beliau kepada bangsa dan negara ini bisa diterima serta dosa – dosa beliau semoga bisa diampuni oleh Allah SWT” dawuh beliau saat diwawancari nuruljadid.net, di kediaman beliau.

KH. Zuhri mempunyai kenangan tersendiri soal Bapak Habibie, pernah suatu ketika sekitar tahun 90-an. Bapak Habibie pernah berkunjung silaturahmi ke PP. Nurul Jadid. Dan turut membantu berkontribusi didalam kesuksesan.

“Beliau turut membantu berkontribusi dalam suksesnya program BPT (program pengayaan ilmu IPTEK) di SMU Nurul Jadid” imbuh Kiai Zuhri (sapaan akrab pengasuh ke IV PP. Nurul Jadid)

Pengasuh ke 3, Almarhum KH. Abdul Wahid Zaini bersama Bapak Presiden BJ Habibie saat berkunjung ke PP. Nurul Jadid

Pengasuh ke 3, Almarhum KH. Abdul Wahid Zaini bersama Bapak Presiden BJ Habibie saat berkunjung ke PP. Nurul Jadid

 

Lebih lanjut, KH. Zuhri juga turut mengapresiasi jasa beliau kepada bangsa baik melalu jabatan formal sebagai presiden maupun Menteri tetapi juga melalui kemampuannya dibidang IPTEK.

“Beliau selalu berfikir tentang kemajuan negeri ini sekalipun beliau tidak lagi muda. Kemudian, Beliau itu kerja keras baik didalam belajar dan mengabdi. Tetapi beliau melakukannya bukan hanya pribadi tetapi untuk masyarakat, bangsa dan negara” imbuh beliau.

“Saya kira kita sebagai santri mendoakan beliau apalagi beliau seorang muslim dan insya allah besok setelah berjum’at akan dilaksanakan shalat ghaib” pungkas beliau.

Penulis  : Ahmad

Editor    : Ponirin

KH. Moh. Zuhri Zaini: Menjadi Tamu Allah, Harus Menjaga Tatakrama Dan Kesopanan

nuruljadid.net.-Pengasuh Pondok Pesantren Nurul Jadid Paiton, Probolinggo, menghadiri undangan walimatus safar, Jum’at malam pukul 18. 00 WIB, (21/06/19) di kediaman Ustadz Arofik Yusuf di desa Pandean, Paiton, Probolinggo.

Ustadz Arofik Yusuf (Shohibul Hajah) dalam sambutannya menyampaikan ucapan terima kasih atas kehadiran para undangan pada acara walimatus safar malam ini.

“Kami berterima kasih kepada para undangan yang sudi hadir pada undangan walumatus safar malam ini, kami mohon sambungan doanya agar menjadi haji mabrur”, ucap ustadz Arofik.

Ditempat yang sama KH. Moh. Zuhri Zaini menyampaikan bahwa Ibadah haji merupakan salah satu rukun islam yang kewajibannya hanya satu kali dilaksanakan berbeda dengan shalat, kecuali di nazarkan. Yang wajib saat ini adalah mendaftar untuk naik haji, karena begitu lamanya menunggu waktu.

Jika ada orang yang mampu namun tidak mendaftarkan diri untuk menunaikan haji, maka dia akan berdosa.

“Mampu naik haji tapi tidak mendaftar, maka akan berdosa. Orang tersebut akan mati dalam keadaan yahudi atau majusi”, Ungkap Kiai Zuhri

Selain haji merupakan kewajiban, ada beberapa hikmah yang terdapat diantaranya, akan di ampuni dosanya oleh Allah, sehinhg sama seperti anak yang baru dilahirkan, pahala orang melaksanakan ibadah di tanah haram akan dilipat gandakan. Dan balasan yang pantas untuk haji mabrur adalah surga.

Oleh karenanya, agar mendapatkan nilai yang baik, maka jadilah tamu Allah yang baik. Dalam sambutannya, Kiai Zuhri menegaskan menjadi tamu allah itu harus menjaga tatakrama dan kesopanan kepada Allah. Baik tatakrama dhohir dengan tidak melakukan perbuatan yang kurang baik juga tatakrama bathin dengan melakukan haji secara ikhlas karena Allah bukan karena yang lain.

Setelah tausyiah tentang walimatus safar, acara dilanjutkan dengan pembacaan shalawat qiyam dipandu oleh Ustadz Sa’ari dan di akhiri do’a. Selanjutnya doa pertama dipimpin oleh KH. Moh. Zuhri Zaini dan do’a kedua dipimpin oleh KH. Moh. Romzi Al-Amiri Mannan.

Pewarta : PM